Header Ads

Rumah Sakit umum Ibu Dan Anak Membludak Pasien Siap Tampung


BANDA ACEH - ANN
Rumah Sakit Umum Ibu dan Anak  Banda Aceh mengambil kebijakan baru terkait penanganan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Akibat kondisi IGD dan ruang rawat inap yang kerap over kapasitas, RS milik pemerintah Aceh itu sewaktu-waktu bisa mengalihkan pasien baru ke rumah sakit mitra BPJS Kesehatan lainnya di Banda Aceh.
Demikian disampaikan Direktur Rumah Sakit Ibu Dan Anak  Banda Aceh, dr.Nyak Rinda Mars kepada ANN, kemarin. Kondisi IGD RSUZA yang semrawut saat ini bisa berdampak pada kurang maksimalnya penanganan pasien gawat darurat. Untuk itu, direksi RSIA berupaya memfasilitasi pasien emergency yang tidak tertampung di RSIA  untuk dirawat ke RS lainnya di Banda Aceh.
“Kami harap masyarakat bisa paham kondisi IGD RSIA sekarang. Artinya saat pasien dirujuk ke kita, sedangkan IGD dalam kondisi penuh, maka kami siap mengirim pasien itu menggunakan ambulans ke RS lain,” ujar Nyak Rinda. Dia memastikan pasien akan dialihkan ke RS yang memiliki spesialis yang sesuai dengan penyakit pasien, fasilitas memadai, serta bisa melayani peserta BPJS Kesehatan (gratis).

Dia menyebutkan, rumah sakit mitra BPJS Kesehatan lainnya di Banda Aceh di antaranya RS Kesdam, RSUD RS Pertamedika Ummi Rosnati, RS Harapan Bunda, RS Fakinah, dan lainnya. “Kalau dikalkulasikan rumah sakit tipe B dan C di Banda Aceh baik milik pemerintah maupun swasta, mungkin tersedia 600
bed. Ini bisa mengurai kondisi IGD RSIA yang sudah over,” jelasnya.
Nyak Rinda menjelaskan, kondisi IGD di RSIA dari hari ke hari semakin sesak. Pasien yang berada di dalamnya juga tidak bisa dipindah ke ruangan karena fasilitas rawat inap sering penuh. Padahal kata Direktur RSIA, penanganan pasien di IGD maksimal enam jam, karena pasien yang datang ke fasilitas itu silih berganti dengan daya tampung sekitar 60an pasien.


“IGD itu bukan tempat rawat pasien. Tapi yang terjadi saat ini pasien sudah dirawat berhari-hari di sana karena kamar pun penuh,” kata Nyak Rinda. Dia mengatakan bahwa kondisi IGD saat ini lsangat memprihatinkan, sehingga pihaknya terpaksa mengambil kebijakan ‘transfer’ demi kebaikan pasien.
Direktur RSiA Banda Aceh, dr. Nyak Rinda SpOT K-Spine menegaskan bahwa kebijakan mengalihkan pasien baru ke RS mitra BPJS Kesehatan lainnya di Banda Aceh itu bukan tanpa pertimbangan. Menurutnya, keselamatan pasien merupakan pertimbangan utama RSIA agar mereka bisa tertangani dengan baik, dengan tetap mengutamakan pelayanan yang aman dan bermutu.
“Nanti jangan sampai terkesan RSIA menolak pasien. Kami hanya mencoba realistis dengan keadaan saat ini. Kami tetap ingin memberikan pelayanan terbaik ke pasien, termasuk dengan memfasilitasinya ke RS lain,” kata Nyak Rinda. Selama ini, katanya, tak sedikit keluarga pasien yang bersikeras menunggu di koridor rumah sakit atau depan IGD asalkan keluarganya ditangani, padahal kasusnya tergolong gawat.
Direktur RSIA menambahkan, penantian tak berujung itu dapat membuat kondisi pasien semakin buruk. “Konsekuensinya besar. Saat ini saja di IGD ada 40 pasien yang belum mendapat tempat tidur. Padahal seharusnya mereka tidak wajar lagi di IGD,” pungkasnya.(r)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.