Header Ads

Majelis Adat Aceh Provinsi Kerjasama MAA Kota Lhokseumawe Gelar Pemasyarakatan Adat Do Da IDI


Lhokseumawe – ANN
Majelis Adat Aceh Provinsi bekerjasama dengan Majelis Adat Aceh Kota Lhokseumawe melaksanakan kegiatan Pemasyarakatan Adat Do Da Idi yang dipusatkan di Aula Diana Hotel Kota Lhokseumawe (25 s.d 27 Februari 2020). Dalam sambutannya Plt Ketua MAA menyampaikan acara yang mengambil tema “Penanaman Nilai-Nilai Adat untuk Anak pada usia dini” bahwa do da idi merupakan skill dalam mentransfer knowledge (ilmu pengetahuan) kepada anak. Keluarga menjadi pendidikan pertama bagi anak, dan bahkan ilmu anak usia dini telah menjadi program studi dalam dunia kampus saat ini.
Acara yang dibuka langsung oleh Wakil Walikota Lhokseumawe Bpk Yusuf Muhammad, SE,MSM. Pengaruh globalisasi, televisi, dan smartphone dengan konten berbagai macam yang telah membuat lalai dan contoh bagi anak sekarang harus dibendung, salah satunya melalui pesan-pesan islami, pesan sejarah, dan pesan moral yang menjadi modal untuk anak usia dini. Harapan bisa terus dilakukan pembinaan oleh MAA secara berkelanjutan. Pemasyarakatan sama dengan mensosialisasikan adat do da idi dalam seluruh lapisan masyarakat.
Hari pertama pemasyarakatan diisi oleh 4 (empat) orang narasumber yaitu Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim,MA (Plt. Ketua MAA) yang menyampaikan Pendidikan Nilai-Nilai Adat Aceh untuk anak usia dini, Drs. Yusri Yusuf, M.Pd (Wakil Rektor ISBI Aceh) tentang Filosofi dan Pendidikan karakter dalam Seni Do Da Idi, Tgk. Yusdedi (Ketua MAA Lhokseumawe) tentang Perkembangan dan Penerapan do da idi di Kota Lhokseumawe, dan cek Medya Husen (Seniman Aceh) tentang Praktek dan Pengembangan Seni Do Da Idi.
Bapak Prof Farid Wajdi menjabarkan bahwa adat-adat yang bertentangan dengan syariat islam jangan dibudayakan lagi oleh masyarakat. Nilai-nilai adat yang diteruskan adalah yang sesuai dengan syariat islam. Pendidikan adalah proses mentransfer ilmu, sikap, dan aqidah. Pendidikan anak usia dini biasanya lebih tertarik dengan yang bergerak, lucu, dan yang diulang-ulang secara berbeda. Bapak Yusri Yusuf menjelaskan makna Rateb Do Da Idi yang berarti syair peuayon aneuk. Rateb ini menjadi salah satu budaya (kearifan lokal) masyarakat Aceh dalam mendidik/mengasuh anak 0 s.d 2 tahun dana tau lebih. Rateb ini dilakukan secara berulang, sehingga apa yang ditanam dalam jiwa anak tidak mudah dilupakan. Filosofi adalah pandangan orang aceh dalam memandang dunia dan akhirat yang sesuai syariat. Dalam Rateb ini banyak nilai-nilai yang ditanam dalam lirik syairnya seperti nilai akhlak, nilai ibadah, nilai shalat, takzim ke guru, harmoni sosial, bela negara. Do da idi telah digunakan masyarakat aceh sejak islam sudah ada di Aceh. Rateb ini menjadi salah satu media mendidik anak dengan harapan bisa mewariskan kepada anaknya dalam hal islam dan akhlak mulia. Rateb ini tidak diajarkan secara khusus hanya dari mulut ke mulut.
Acara hari kedua dilanjutkan praktek dan simulasi do da idi anak usia dini dengan alat peraga ayunan aneuk yang telah di dekorasi semenarik mungkin yang difasilitasi oleh Sanusi M. Syarif,SE,M.Phil (Kabag Perencanaan Set MAA) dan Drs. Nasir (Wakil 1 Ketua MAA Lhokseumawe).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.