Header Ads

Wiratmadinata Pasca Gempa Dan tsunami Aceh Cukup Layak Di apresiasi Untuk Infrastruktur


Banya Aceh --ANN
Wiratmadinata menyebut masih sangat sering terdengar adanya perbincangan terkait kendala budaya bila investasi di Aceh dilaksanakan secara luas, Aceh menurutnya sudah pada tataran penguatan dan ketahanan budaya yang tidak lagi perlu terlalu dikhawatirkan dalam aspek perspektif interaksi manusia, Jumat (14/02/2020).

Pasca Gempa dan Tsunami Aceh, propinsi yang menerapkan syariat Islam tersebut mencapai kemajuan yang cukup layak diapresiasi, menurut Wira selaku perwakilan Kominfo & Publikasi Pemda Aceh saat bencana 15 tahun silam tersebut, Aceh berada pada titik minus di segala bidang, infrastruktur hancur, sistem ekonomi, sosial juga mengalami titik terendah dalam tingkatan secara nasional, karenanya 2019 jika ada survei yang menyatakan Aceh masih propinsi termiskin di Sumatera, itu wajar saja.

"Bagaimana pun kondisi Aceh pasca konflik politik, keamanan dan puncak jatuhnya Aceh akibat bencana alam Gempa dan Tsunami sangat sulit jika disanding dengan propinsi lainnya, saat daerah lain berlari, Aceh malah baru memulai kembali pembangunannya di segala bidang," papar Wira dalam talkshow langsung bersama radio Jati FM Jumat sore, 14 Februari 2020.

Saat media ini membicangkan kendala sosial, agama juga budaya terkait kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja muncul apabila investasi UEA mulai berjalan di Aceh, Wira menyampaikan, Aceh dalam pandangannya tidak perlu mundur ke abad ke-16 ketika revolusi industri mempertanyakan apa dampaknya jika teknologi menggurangi peran manusia.

Penjelasan Wira terkait budaya dalam menghadapi investasi disampaikan di hadapan publik dan awak media radio, tv dan cetak serta elektronik yang turut hadir di acara bertajuk Ruang Opini Publik yang dilaksanakan oleh Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh Bidang Pengelolaan dan Layanan Informasi Publik di Na Caffe Jl. Cut Nyak Dhien, Lamtemen Timur, Banda Aceh.

Aceh menurut Wira memiliki beberapa komponen sasaran investasi; 1. Sarana pendukung kepariwisataan seperti resort, perhotelan, fasilitas transportasi wisata, 2. Islamic Center State berupa pusat kebudayaan Islam yang nantinya dipusatkan di Kota Banda Aceh, 3. Industri dan pengembangan agrobisnis halal food yang sudah menjadi pengenal dari provinsi Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.

Kemajuan Aceh sudah di depan mata, apalagi saat ini Aceh berpeluang luas melalui kekayaan sumber daya alam yang dimiliki provinsi tersebut beberapa negara investor siap menanam modal, UEA juga segera berinvestasi mencapai kisaran 42 Trilyun Rupiah untuk pengembangan sektor kepariwisataan maupun bidang industri dan eksplorasi gas-metrokimia.

"Tidak ada satu wilayah pun yang bisa berkembang tanpa adanya investasi," tutur Wira.

Oleh sebab itu, menurutnya kesiapan Aceh dari segi sosial, religi maupun budaya jangan lagi menjadi perdebatan, pengawasan secara bersama dapat dilakukan sebagai upaya menyikapi positif atas kesempatan investasi UEA senilai 42 Trilyun Rupiah yang diperoleh Aceh sebagai propinsi dengan posisi perkembangan ekonomi masih terus memiliki harapan dan tumbuh.

"Persoalan tantangan budaya dalam pengembangan suatu negara, adalah soal lampau, kita menyebutnya sebagai wacana purba, sepatutnya kita akhiri saja polemik itu, Aceh punya target sepuluh persen nilai angka kemiskinan untuk masa pemerintahan saat ini," ujarnya.

Berikut beberapa kesiapan yang dimiliki Aceh dalam menyambut investasi yang akan dilaksanakan Indonesia untuk Aceh dirangkum dari hasil pertemuan diskusi publik tersebut;

Pengembangan wisata pulau Weh Sabang
Ekowisata Aceh Tengah Takengon
Pengembangan wisata pantai Pulo Banyak Kabupaten Singkil
Pengembangan wisata Seumeulue
Islamic Center State Ibukota Propinsi Aceh Banda Aceh
KEK Arun, sektor migas, metrokimia.
Pembangunan infrastruktur gas hilir Lhokseumawe dengan perluasan
Ladom sebagai pusat industri seluas 200 hektar.(*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.