Header Ads

Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh (PCA) Adakan Diskusi Keacehan di Aula Kesbangpol Provinsi Aceh



BANDA ACEH - ANN
Dewan Pimpinan Pemuda Cinta Aceh (PCA) mengadakan Diskusi Keacehan dengan tema "Ada Apa dengan MoU Helsinki?" di Aula Kesbangpol Provinsi Aceh pada Minggu, 08 Maret 2020.

Diskusi yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Aceh dan Nasional ini membahas tentang proses perdamaian Aceh dan RI dan juga mempertanyakan sudah sejauh mana perjalanan MoU Helsinki dan penerapannya pasca konflik Aceh dan RI berakhir.

Ketua Umum Dewan Pimpinan PCA, Sulthan Alfaraby, dalam kata sambutannya mengatakan bahwa pemuda masa kini haruslah menjadi contoh yang baik bagi generasi muda kedepannya. Generasi muda Aceh haruslah lebih peduli dengan nasib Aceh, karena masa depan Aceh dimasa depan tergantung daripada semangat anak-anak muda dalam memperjuangkan nasib bangsanya.

"Terima kasih saya ucapkan untuk semua tokoh yang telah berhadir yang sangat luar biasa dan juga kepada para tamu undangan serta hadirin sekalian. Saya ingin katakan, bahwasanya pemuda-pemuda Aceh masa kini haruslah lebih peduli dengan nasib Aceh di masa ini dan juga di masa depan. Karena nasib Aceh tergantung kepada generasi mudanya dalam membangun Aceh kedepannya. Salah satu contoh yang pertama kali harus dikaji dan diperjuangkan adalah tentang pelaksanaan MoU Helsinki pasca konflik Aceh silam", ujarnya, Minggu, (08/03/2020).

Dalam pembukaan diskusi yang dimoderatori oleh Samsul Bahri, M.Si., mengatakan bahwa MoU Helsinki sudah seharusnya dibahas lagi oleh masyarakat Aceh, khususnya generasi muda Aceh. Beliau berharap MoU Helsinki jangan sekali-kali dilupakan oleh semua pihak, khususnya generasi muda Aceh.

Usai dibuka oleh Moderator dan dilanjutkan oleh Pembicara ke-I, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tgk. H. Muhammad Yunus Yusuf, memberikan apresiasi kepada Dewan Pimpinan PCA karena telah mengadakan Diskusi Keacehan yang berarti sudah menuangkan ide kegiatan serta semangat untuk masyarakat Aceh. Beliau juga mengatakan bahwa Aceh harus merdeka dalam bingkai NKRI dengan cara MoU Helsinki harus terealisasikan, karena sudah banyak masyarakat Aceh yang menjadi korban pada saat konflik berkecamuk di Aceh.

Pembicara ke-II, Pimpinan Presidium GAM Independent, Tgk. Sufaini Usman Syekhy, menyampaikan pandangannya terhadap perjuangan bangsa Aceh. Menurut beliau, jika berbicara tentang Aceh tentunya melalui perjalanan yang panjang, dan MoU sudah 15 tahun berjalan tapi tidak terealisasikan karena para pemangku jabatan tidak fokus dengan perjuangan terhadap MoU Helsinki. Tambah beliau, pemuda harus mempunyai solusi terhadap segala permasalahan yang ada di Aceh saat ini.

Dilanjutkan oleh Pemateri ke-III, Tokoh Nasional Aceh, H. Karimun Usman, memberikan saran bahwa segala hal yang tercantum dalam butir-butir MoU Helsinki haruslah direalisasikan dan tentunya haruslah menguntungkan bagi masyarakat Aceh.

Pemateri ke-IV, Mantan Ketua Komisi II DPRA, Nurzahri, S.T., juga sepakat bahwa polemik MoU Helsinki haruslah mempunyai jalan keluar dan tidak saling menyalahkan satu sama lain karena dapat menimbulkan perpecahan antara sesama orang Aceh.

Terakhir dari Pemateri ke-V, Akademisi Unsyiah, Basri Effendi, S.H., M.H., MKn., menutup sesi Pembicara dalam diskusi dengan mengatakan bahwa perlu adanya solusi dari penerapan MoU Helsinki pasca perdamaian di Aceh dan hak tersebut haruslah tampak nyata. Pelaksanaan MoU Helsinki menurutnya harus bisa mensejahterakan rakyat Aceh. Pemerintah haruslah mempunyai iktikad yang baik dalam memperjuangkan nasib Aceh.

Usai sesi Pembicara berakhir, dilanjutkan dengan sesi bertanya dan sangat antusias oleh berbagai kalangan masyarakat yang berhadir, khususnya mahasiswa, pemuda dan korban konflik Aceh. Berbagau pandangan serta pertanyaan diberikan sehingga membuat suasana diskusi sempat agak memanas dan sempat diarahkan dengan baik oleh Moderator, sehinga suasana kembali berjalan dengan lancar.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.