Header Ads

Kadiskes Ngajak Semua Pihak untuk Sungguh Sungguh Bersinergi Menangani Penyakit Tuberkulosis

 

Setiap detik Berharga, Selamatkan Aceh dari Tuberkulosis

Banda Aceh| ANN

Kadinkes Aceh dr. Hanif, mengajak semua pihak untuk bersungguh-sungguh dan saling bersinergi dalam upaya menangani penyakit tuberkulosis.

Hal itu dikatakan kadinkes saat membuka dan memberikan sambutan pada seminar Awam dalam rangka Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia Tahun 2021, yang berlangsung secara virtual (Kamis, 25/03/2021).

Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang tahun ini mengusung tema “Setiap Detik Berharga, Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis” menjadi sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa penanggulangan TB tidak boleh surut sekalipun dalam situasi pandemi Covid-19.

“Upaya penanganan tuberkulosis harus didukung seluruh jajaran Pemerintah dan segenap lapisan masyarakat agar tidak ada hambatan sosial-ekonomi apa pun dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pendekatan multi-sektoral dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, harus diperkuat”, sebut Kadinkes Aceh.

Kadinkes juga mengharapkan agar dunia usaha dan akademisi perlu berperan lebih aktif dan menghasilkan terobosan-terobosan inovatif untuk penyediaan alat-alat kesehatan dan pengobatan dengan harga yang lebih terjangkau agar penanggulangan tuberkulosis bisa terus berkelanjutan secara efektif dan efisien.

4 Strategi Eliminasi Tuberkulosis

Terkait dengan upaya penanganan tuberkulosis, kadinkes Aceh dalam sambutannya juga menyampaikan empat arahan penting untuk mempercepat upaya mengeliminasi TB di Indonesia.

Strategi pertama, meningkatkan intensitas edukasi, komunikasi, dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit tuberkulosis ini dengan tujuan utama untuk (1). Meningkatkan kesadaran masyarakat agar memahami dan memiliki kemampuan dalam melakukan pencegahan terhadap penyakit tuberkulosis; (2).Mendorong agar masyarakat yang terpapar pada risiko tuberkulosis atau memiliki gejala yang berhubungan dengan tuberkulosis agar segera melakukan pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan. Dalam situasi pandemi Covid-19, tracing terhadap kasus Covid-19 dengan gejala mirip TB, seperti batuk, juga harus dilanjutkan dengan melakukan testing TB meskipun hasil testing Covid-19 nya negatif; (3).Mendorong pasien tuberkulosis agar memiliki kepatuhan dalam menjalani pengobatan sampai memperoleh kesembuhan, dan; (4). Memerangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien tuberkulosis agar tidak dikucilkan di masyarakat.

Strategi kedua tambah Hanif, yaitu dengan meningkatkan intensitas penjangkauan ke masyarakat (Reaching Out) untuk menemukan pasien tuberkulosis dan memastikannya masuk ke dalam sistem pengobatan tuberkulosis melalui layanan kesehatan yang tersedia.

Ketiga, lakukan penguatan fasilitas kesehatan, baik di Puskesmas, klinik atau layanan kesehatan masyarakat lainnya. Penguatan fasilitas kesehatan ini juga harus disertai dengan peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam melakukan diagnosa dan pengobatan tuberkulosis, serta memastikan ketersediaan obat-obatan tuberkulosis.

Dan keempat, dengan memperkuat sistem informasi dan pemantauan untuk memastikan agar pasien tuberkulosis menjalani pengobatan sampai mencapai kesembuhan untuk memutus rantai penularan dan menghindari kemungkinan kebal atau resisten terhadap obat tuberkulosis.

Tuberkulosis Bisa Disembuhkan

Dr. Hanif juga menekannya pentingnya bagi pasien TB untuk menjalani pengobatan secara benar selama 6 bulan berturut-turut untuk menghindari pasien menjadi resisten terhadap pengobatan Tb atau di kenal dengan Multi-drug-resistant tuberculosis (MDR-TB).

“Jika ini sampai terjadi maka pasien membutuhkan pengobatan yang jauh lebih lama yaitu dua tahun tanpa henti. Peunyaket TBC nya Insya Allah puleh, meunyoe geutanyoe ta tem meu ubat”, pesan Hanif.

Untuk menjaga kesinambungan pengobatan pada pasien resisten ini, pasien juga perlu dilakukan pendampingan yang ketat agar tidak terjadi kasus drop out.

“Penderita MDR- TB bila menularkan kepada orang lain menyebabkan orang yang tertular akan langsung menderita MDR-TB dan membutuhkan pengobatan selama 2 tahun juga. Indonesia sendiri dianggap memiliki prevalensi MDR-TB yang tinggi”, tambah Hanif.

Saat ini Indonesia sendiri merupakan negara dengan beban Tuberkulosis tertinggi ketiga di dunia setelah India dan China. Di Indonesia kasus TB diperkirakan sebanyak 845.000 kasus dengan angka kematian mencapai 93.000 kasus.

Dari kasus tersebut baru 68% yang sudah ditemukan dan diobati, sehingga masih terdapat 32% yang belum ditemukan dan berpotensi menjadi sumber penularan bagi masyarakat sekitar, apalagi dalam situasi dunia yang tengah dilanda pandemi Covid-19 maka upaya mengatasi TB dalam kondisi pandemi Covid-19 justru harus semakin ditingkatkan.

Sesuai perkiraan WHO, bahwa kematian akibat TB akan bertambah sejumlah 400 ribu di seluruh dunia, atau setiap jam bertambah sekitar 46 orang meninggal, jika kelangsungan layanan TB esensial terganggu selama pandemi Covid-19.

Pemerintah berkomitmen yang tinggi untuk mengeliminasi TB pada tahun 2030 sejalan dengan target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals atau SDGs.

Di akhir sambutannya, Kadinkes berharap agar seluruh lapisan masyarakat untuk terus turut serta mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dan mendukung program vaksinasi di Indonesia.

Seminar awam kali ini ikut menghadirkan Istri Gubernur Aceh yang juga Ketua Wilayah Perkumpulan Pemberantas Tuberkulosis Indonesia, DR. Dyah Erti Idawati sebagai keynote speaker.

Selain Dyah Erti, narasumber lain yang memberikan materi diantaranya adalah dr. Teuku Zulfikar, Sp.P (K), FISR Selaku Ketua Persatuan Dokter Paru Indonesia Cabang Aceh, dr. Dewi Behtri Yanifitri, Sp.P (K), FISR Selaku Anggota Persatuan Dokter Paru Indonesia Cabang Aceh, Kabid P2P Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.