Header Ads

Manfaatkan Lahan Pekarangan dengan Memelihara Udang Sistem Bioflog

 Banda Aceh I ANN

Beranjak dari pengalaman dan melihat beberapa daerah di Jawa Barat sukses memelihara ikan/udang dalam kolam terpal (Bioflog). Maka muncul inisiatifnya untuk membuat di kampungnya sendiri._

Hal tersebut mewujudkan mimpi Arief Syahputra S.Pi, (45) untuk berusaha sehingga dapat dijadikan peluang bisnis.

"Dengan modal yang relatif kecil, asal kita lakukan dengan serius, tentu hasilnya akan memberikan nilai tambah ekonomi", kata alumni Fakuktas Perikanan Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh tahun 1999.

Apalagi kegiatan tersebut, hanya memanfaatkan waktu luang saja. Dengan ada lahan kosong yang berukuran 100 m2, cocok digunakan untuk memelihara udang Vaname dan Nila sistem Bioflog.

"Tujuannya ingin menambah penghasilan sekaligus sebagai contoh bagi masyarakat, bahwa di lahan pekaranganpun selain sayuran bisa kita pelihara udang dan ikan  untuk konsumsi keluarga dan bisnis", ungkapnya.


Dia mengharapkan agar kegiatannya itu dapat berkembang sehingga berguna bagi masyarakat sekitarnya. "Karena lahan yang digunakan untuk satu unit Bioflog ini cukup dengan 15 m2 saja", jelasnya. 

Pengalamannya tahun 2019 lalu bersama tim pernah melakukan pendampingan di kecamatan Peukan Bada dan Meuraxa kota Banda Aceh.

Selain itu, lanjutnya pada tahun 2020 dia juga sudah pernah membuat Bioflog untuk budidaya ikan Lele saat masih tinggal Bandung. 

Saat itulah kata dia, "dari tabungan selama kerja sebagai analis kredit UMKM Bank daerah di Bandung, saya jadikan sebagai modal untuk mulai bisnis", cetusnya.

Dimasa Pandemi, dia manfaatkan peluang itu dengan memelihara udang Vaname dalam bioflog berdiameter ukuran 3 meter.

Dari pantauan Sinar Tani, ada tiga unit Bioflog (lingkaran) dan satu unit tandon 3 x 2 meter berbentuk persegi panjang. Dua unit baru ditebari udang dan satu unit lagi akan dipelihara ikan Nila.

Udang Vaname katanya, membutuhkan air dengan salinitas optomal 15 - 25 ppt. Untuk itu, dia memanfaatkan air payau yang ada di sekitar lokasi tempat tinggalnya desa Ie Masen Kayee Adang, kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. 

Untuk pembuatan tiga unit Bioflog termasuk instalasi pipa lengkap membutuhkan biaya Rp 15 juta. Adapun peralatan pendukung lainnya harus tersedia yaitu mesin aerator dua unit dan satu unit genset, atau batteray UPS standar.

Sementara benur (benih udang) diorder dari Kabupaten Bireuen sebanyak 13 ribu benur, dengan harga Rp 50 per benur.

"Sebenarnya untuk ukuran bioflog berdiameter 3, bisa saja ditebar 1000 ekor benur post larva (PL-10), asal saja aerasinya cukup dan terpenuhi kebutuhan  oksigen untuk ikan/udang yang kita pelihara ", imbuhnya.

Budidaya udang atau ikan dengan sistem Bioflog menggunakan probiotik, fungsinya dapat menghemat penggunaan air. Air kolam yang ada hanya ditambah jika adanya pengurangan akibat penguapan dan dikurangi sedikit jika kandungan Bioflognya terlalu padat. 

Dalam pelaksanaannya, teknolgi budidaya sistem Bioflog ini sangat

mudah dalam pengawasan dan perawatannya.

Hasil yang ingin dicapaipun dapat juga ditingkatkan sesuai dengan kemanpuan padat tebar. Semakin tinggi padat tebarnya, maka kebutuhan oksigen aerator akan  semakin tinggi dan perawatan semakin intensif.

Hasil dari satu unit kolam dengan kepadatan 1.000 ekor/ m3 untuk target produksi udang pancing bisa diperoleh sebanyak 66 kg udang hidup, dengan ukuran sektar 100 ekor/kg. Dalam masa pemeliharaan selama dua bulan, dengan harga Rp 100.000/kg. Maka akan mendapat keuntungan Rp 6,600,000 per unit kolam.

Berdasarkan pengalamannya jika masa pemeliharaan tiga bulan tingkat kelangsungan hidup sekitar  80 persen serta menghabiskan pakan sekitar 300 - 400 kg, harga per kilogram pakan yaitu Rp 12.000.

Sementara untuk pasarnya memang sudah terjamin dan ada yang tampung, bahkan kalau untuk umpan pancing di kota Banda Aceh selama ini belum cukup apalagi terpenuhi", bebernya.

Ditambahkannya, salah satu persyaratan dalam budidaya teknologi Bioflok perlu adanya probiotik yang disiapkan dalam media air kolam. Hal ini penting karena berguna untuk memproses limbah kolam menjadi baik, akibat tambahan pakan. 

Bioflog sendiri sambungnya terbentuk jika kondisi lingkungan air mendukung bagi berkembangnya bakteri probiotik pengurai limbah. Selain itu sistem bioflog sangat bagus diterapkan, apalagi dapat meminimalisir pergantian air, baik untuk udang atau ikan yang kita pelihara.

Teknologi ini sangat menguntungkan. Sebab Bioflog dapat memicu pertumbuhan secara cepat karna mendapat tambahan pakan bagi spesies tersebut yang mengandung nutrisi.

*Persiapan Sistem Bioflog*

Air kolam yang sudah diisi bebas predator atau penyakit dengan cara ditambahkan kaporit. 

Setelah beberpa hari lanjutnya, dipastikan kandungan kaporit hilang dengan cara dilakukan pengadukan merata dengan aerator yang kuat.

Selanjutnya kata dia, air kolam diisi probiotik dengan takaran tertentu sesuai luasan kolam. Setelah adanya probiotik  ditambahkan juga molase, secara bersamaan juga diberikan kapur pertanian (takaran sesuai pH air). 

"Air kolam sudah siap ditebar benur atau ikan ditandai dengan warna air yang agak bening kecoklatan. Waktunya sekitar 3 sampai 4 hari setelah dibuat", pungkasnya.

*Abda

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.