Iklan

Category 2

Hadapi Omicron, Pemerintah Terus Berupaya Terus Gencarkan 3T dan Vaksinasi

2/23/22, Rabu, Februari 23, 2022 WIB Last Updated 2022-02-23T02:54:35Z

 

Banda Aceh | Pemerintah terus berupaya menekan angka penularan kasus COVID-19 yang didominasi varian Omicron. Hal ini termasuk melakukan beragam upaya pencegahan dan mendorong laju vaksinasi. Strategi ini efektif menekan jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga Jumat (11/02/2022) pukul 17.00 WIB, pasien yang dirawat di rumah sakit mencapai 29 persen dari total kapasitas tempat tidur dan isolasi yang disediakan untuk pasien COVID-19 secara nasional. Sebagian besar pasien yang masuk rumah sakit memiliki gejala ringan dan tanpa gejala (OTG).

Selain mengimbau masyarakat yang tidak bergejala dan gejala ringan untuk melakukan isolasi mandiri dan terpadu, pemerintah juga terus meningkatkan testing. Hingga Kamis (10/02/2022), pemerintah sudah melakukan tes terhadap sekitar 400 ribu spesimen tiap harinya.

“Kenaikan angka perawatan pasien ini memang harus dikontrol agar layanan kesehatan masyarakat tidak terpengaruh secara berarti. Dengan begitu, skema mendorong masyarakat yang bergejala ringan atau tanpa gejala (OTG) untuk isolasi di rumah menjadi strategi pilihan agar pasien yang lebih membutuhkan, termasuk mereka yang bergejala berat dan kritis, dapat memperoleh perawatan intensif,” ujar Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Selain mengalokasikan rumah sakit bagi mereka yang lebih membutuhkan layanan intensif, pemerintah juga terus mendorong program vaksinasi nasional. Hingga 9 Februari 2022, Indonesia telah memiliki lebih dari 500 juta vaksin dan hingga 11 Februari 2022 pukul 18.00 WIB, total 187,94 juta (90,24 persen) jumlah masyarakat Indonesia telah divaksinasi dosis 1 dan 134,74 juta (64,70 persen) telah divaksinasi dosis 2.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat terutama kelompok rentan untuk mengikuti program vaksinasi baik dosis primer maupun dosis lanjutan atau booster.

“Data Kemenkes periode 21 Januari – 8 Februari 2022 menunjukkan dari 487 pasien COVID-19 yang meninggal, 66 persen di antaranya belum divaksinasi lengkap. Kami terus mendorong masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi yang telah disediakan secara gratis oleh pemerintah, termasuk vaksinasi booster, terutama bagi mereka yang lansia,” ujar Nadia.

Pemberian vaksin, imbuh Nadia, telah terbukti secara ilmiah mampu mengurangi risiko terburuk akibat terinfeksi COVID-19.

“Penelitian terbaru Kemenkes, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Indonesia menunjukkan mereka yang sudah mendapatkan vaksin Sinovac dua dosis, pemberian vaksin booster setengah dosis mampu meningkatkan antibodi yang sebanding dengan dosis penuh,” imbuhnya.

Lebih lanjut Nadia menyampaikan, jarak waktu terbaik untuk mendapatkan dosis booster adalah minimal enam bulan setelah menerima vaksinasi kedua. Kemudian, apabila apabila seseorang mendapatkan booster di bulan ke 6-9, maka antibodi yang diproduksi bisa sampai 12,5 – 88,9 kali lipat, tergantung merek vaksin booster yang digunakan.

Menutup pernyataannya, Nadia kembali menegaskan bahwa vaksinasi bukan satu-satunya cara untuk mampu mengurangi dampak terburuk COVID-19.

“Cara terbaik adalah melengkapi vaksinasi bersama protokol kesehatan yang disiplin seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Lewat semua cara pencegahan yang bisa dilakukan baik oleh pemerintah dan masyarakat, diharapkan penularan COVID-19 yang didominasi Omicron bisa segera dilalui dan dikendalikan secepatnya,” tandasnya.”

 

~• Gejala Makin Ringan, Omicron Bakal Jadi Varian Terakhir Sebelum Masuk Endemi?

 

Kementerian Kesehatan angkat bicara soal potensi pandemi COVID-19 menjadi endemi. Mengingat gejala varian Omicron yang kini merebak relatif lebih ringan dibanding varian Corona lainnya, mungkinkah pandemi COVID-19 di Indonesia tengah menghitung untuk menjadi endemi?

“Ini adalah sesuatu yang kita harus upayakan bersama. Kita sempat mencapai angka kasus 200 per hari, artinya kasus sangat rendah. Kalau kita lihat, mungkin sekali,” jawab juru bicara vaksinasi COVID-19 dr Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers virtual terkait update perkembangan COVID-19 di Indonesia, Selasa (22/2/2022).

“Di banyak negara bahkan seperti di Inggris itu juga sudah mengatakan mereka akan menormalkan kehidupan seperti sebelum pandemi COVID-19,” imbuhnya.

Mungkinkah Omicron jadi varian terakhir?
Menurut dr Nadia, potensi varian Omicron menjadi varian Corona terakhir yang merebak tidak bisa ditebak. Pasalnya, mutasi adalah hal yang terjadi secara alami pada virus.

Di samping itu, tak selalu mutasi virus menyebabkan gejala yang lebih buruk pada manusia. Terdapat kemungkinan, mutasi virus malah menyebabkan virus melemah

“Apakah varian terakhir? Kita tidak pernah tahu. Ingat bahwa mutasi adalah hal alami virus sehingga kemungkinan bermutasi itu sangat mungkin terjadi. Tapi apakah mutasi berdampak pada manusia sehingga menambah tingkat keparahan? Ini yang kita belum tahu,” ujarnya.

“Mutasi itu tidak selalu berakibat fatal kepada manusia tapi bisa juga menyebabkan virus melemah atau virus tersebut tidak berdampak sama sekali. Kita lihat terus perkembangannya,” pungkas dr Nadia.”[adv]

Komentar

Tampilkan

Terkini