Iklan

Category 2

Sekda Aceh Taqawallah Sosialisasi Tentang Wabah PMK dalam Acara Zikir Rutin

5/30/22, Senin, Mei 30, 2022 WIB Last Updated 2022-05-30T12:48:08Z

BANDA ACEH— Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taqwallah, mensosialisasikan tentang wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini marak terpapar pada hewan ternak di Aceh, kepada seluruh peserta zikir dan doa rutin Pemerintah Aceh, Senin, 30/5/2022.

Sosialisasi tersebut dilakukan Sekda Aceh, agar ribuan peserta zikir yang berada di tengah-tengah masyarakat bisa mendapatkan informasi yang benar. Sehingga tidak salah dalam mengambil tindakan seputaran hewan ternak yang terpapar PMK.

Dalam kesempatan tersebut Taqwallah menghadirkan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, drh. T. Reza Ferasyi,M.Sc.PhD, sebagai pakar di bidang kehewanan untuk menjelaskan langsung terkait wabah PMK kepada seluruh peserta zikir.

Reza menjelaskan, wabah PMK pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1886 di Malang, Jawa Timur. Di Aceh sendiri wabah tersebut melanda pada tahun 1892, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pemberantasan wabah PMK di tanah air mulai digencarkan pada tahun 1974 sampai 1980 dengan menggunakan vaksin O1 BSF. Hingga pada tahun 1986 Indonesia dinyatakan bebas wabah PMK.

“Namun demikian pada tahun 2022 ini, wabah PMK kembali muncul di sejumlah provinsi, termasuk diantaranya Aceh,” kata Reza.

Reza mengatakan, hewan ternak yang terpapar PMK tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan juga aman bila dikonsumsi dagingnya. Meskipun demikian, penyakit tersebut dapat menimbulkan sejumlah kerugian lainnya yaitu membuat hewan ternak mengalami berat badan dan menurunnya produksi susu. Bahkan penyakit tersebut juga bisa menyebabkan menurunnya populasi hewan ternak.

“Jadi tidak heran selama wabah PMK ini ada, banyak hewan ternak mati mendadak,” kata Reza.

Reza mengatakan, penyakit tersebut membuat peternak sapi, kerbau, dan kambing merugi. Oleh sebab itulah Reza meminta semua pihak untuk mendukung penanggulangan wabah PMK yang ada di Aceh.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menanggulangi wabah tersebut, pertama, bila ada ternak sapi yang terinfeksi agar segera dilaporkan kepada petugas berwenang. Kemudian petugas segera melakukan tindakan pengobatan dan bila sudah tersedia vaksin agar memberikan kepada hewan yang sehat.

“Hal yang terpenting adalah menjaga kebersihan kandang ternak dan peternak hewan,” ujar Reza.

Kerugian akibat mewabahnya PMK di Aceh dirasakan langsung oleh salah satu peternak sapi di Aceh Besar, Aditya Urahman. Ia mengatakan, selama wabah tersebut melanda sejumlah hewan ternaknya mengalami penurunan berat badan. Bahkan beberapa diantaranya ada yang mati dan keguguran.

“Penjualan sangat susah akibat dari penutupan pasar hewan dan harga jualnya pun sudah turun,” kata Aditya.

Akibat wabah tersebut juga, biaya operasional peternakan hewan juga semakin membesar. Dimana pihaknya harus membeli obat-obatan yang semakin langka. Belum lagi harus melakukan pengobatan bagi hewan yang sakit.

“Saya sebagai peternak memohon perhatian dari Pemkab Aceh Besar dan Pemerintah Aceh untuk segera mengatasi wabah penyakit mulut dan kuku ini,” kata Aditya. [•]

Komentar

Tampilkan

Terkini