Aceh Tengah – Satuan Tugas (Satgas) Kodim 0106/Aceh Tengah terus mengintensifkan pembangunan Jembatan Gantung Kalaili yang berlokasi di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Hingga pertengahan Februari 2026, progres pengerjaan jembatan tersebut telah mencapai 48,5 persen. Rabu (18/2/26)
Jembatan gantung sepanjang 100 meter ini dibangun sebagai sarana penghubung antara Desa Owaq dengan sejumlah kampung di Kemukiman Wih Dusun Jamat, yakni Desa Linge, Desa Jamat, Desa Delung Sekinel, Desa Kute Reje, dan Desa Reje Payung. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan akses transportasi yang selama ini dihadapi masyarakat di wilayah pedalaman Kecamatan Linge.
Secara teknis, sejumlah tahapan konstruksi telah menunjukkan perkembangan signifikan. Empat titik abutmen—1A, 1B, 2A, dan 2B—telah selesai dicor sebagai pondasi utama penopang jembatan. Tiang tower (pilon) titik (1) juga telah dicat, sementara tower kanan dan kiri telah berdiri kokoh dan kini memasuki tahap pemasangan glogor UNP 100 antar pilon.
Selain itu, pekerjaan difokuskan pada pembentangan seling bawah sebagai bagian penting dari struktur utama jembatan. Pada hari ini, personel TNI bersama teknisi melaksanakan pengepresan seling bawah, pendirian pilon kiri titik (2), pemlesteran beton angkur titik (2), serta pengelasan dan penguncian seling menggunakan klem khusus untuk memastikan kekuatan dan stabilitas konstruksi.
Pembangunan jembatan ini melibatkan personel gabungan dari berbagai satuan. Tiga anggota Koramil 05/Linge dipimpin Lettu Inf Muklis, 30 personel Yon TP 854/DK dipimpin Letda Inf Iko Andika Mayanda, empat personel Kompi B Yonif 114/SM dipimpin Serda Nurdin, serta dua personel dari Puziad dipimpin Pelda Joko S. Sinergi lintas satuan ini menjadi kunci percepatan pembangunan di tengah keterbatasan sarana dan medan yang cukup menantang.
Material konstruksi juga telah dimobilisasi secara bertahap ke lokasi proyek. Di antaranya 400 sak semen, ratusan batang besi berbagai ukuran, batu split, pasir, batu kali, delapan tiang tower, seling atas dan bawah, hingga bahan lantai jembatan dari kayu keras. Seluruh material tersebut digunakan untuk memastikan kualitas dan ketahanan jembatan dalam jangka panjang.
Meski progres hampir menyentuh 50 persen, Satgas masih menghadapi kendala berupa terbatasnya alat pengepres dan penguncian seling. Idealnya, proses tersebut menggunakan alat impact agar hasil penguncian lebih maksimal, kuat, dan aman. Namun demikian, personel tetap memaksimalkan peralatan yang tersedia tanpa mengurangi standar keselamatan dan kualitas pekerjaan.
Lettu Inf Muklis menyampaikan bahwa pihaknya terus menggenjot pengerjaan setiap hari guna mengejar target penyelesaian pada Februari 2026.
“Pekerjaan kita kebut setiap hari. Ini akses penting bagi masyarakat, jadi kita upayakan selesai tepat waktu dengan tetap mengutamakan kualitas serta keamanan konstruksi,” ujarnya.
Masyarakat setempat menyambut baik progres pembangunan tersebut. Salah seorang warga Desa Jamat, Iskandar (38), mengungkapkan harapannya agar jembatan segera rampung.
“Selama ini kalau musim hujan, kami cukup kesulitan menyeberang. Kalau jembatan ini selesai, tentu sangat membantu anak sekolah, petani, dan pedagang. Kami merasa diperhatikan,” katanya.
Apabila rampung sesuai target, Jembatan Gantung Kalaili diyakini akan memangkas waktu tempuh antar desa, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman Kecamatan Linge. Kehadiran jembatan ini juga menjadi simbol komitmen TNI dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil.