• Jelajahi

    Copyright © Aceh Nasional News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Category 2

    Menjaga Kedamaian dari Desa: Membawa Pilpengkute Aceh Tenggara 2026 yang Bermartabat untuk Indonesia

    9/25/26, Jumat, September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T15:31:27Z
    Demokrasi sejati tidak dimulai dari panggung megah di ibu kota, melainkan dari gang-gang kecil dan pekarangan rumah di tingkat desa. Pada penghujung tahun 2026, Kabupaten Aceh Tenggara akan menggelar Pemilihan Pengulu (Pilpengkute) serentak di 116 Kute. Momentum ini bukan sekadar rutinitas politik enam tahunan, melainkan ujian kematangan sosial bagi kita semua dalam merawat persatuan bangsa.

    Sebagai fondasi terkecil dari tata kelola negara, apa yang terjadi di level desa mencerminkan wajah demokrasi Indonesia secara keseluruhan. Pilkades atau Pilpengkute sering kali memicu tensi sosial yang lebih tinggi dibanding Pemilu Nasional karena para calon dan pendukungnya saling mengenal dekat, bertetangga, bahkan terikat hubungan kekerabatan. Oleh karena itu, komitmen untuk menjaga perdamaian menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar

    Berbeda Pilihan, Tetap Bersaudara

    Esensi dari pemilihan pengulu adalah mencari pemimpin terbaik yang mampu membawa kemajuan bagi Kute. Perbedaan pandangan dan pilihan adalah hal yang lumrah dalam alam demokrasi. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai merusak ikatan silaturahmi yang telah dirajut selama puluhan tahun.

    Kita harus menyadari bahwa kontestasi politik ini sifatnya sementara, sedangkan hubungan bertetangga dan persaudaraan berlangsung selamanya. Menjelang hari pemungutan suara, ada tiga pilar utama yang harus dijaga bersama oleh seluruh masyarakat Aceh Tenggara:

    1. Kedewasaan Para Calon Pengulu: Menjadi pemimpin berarti siap menang dan siap kalah. Para calon harus mampu mengendalikan tim suksesnya agar berkampanye secara sehat, adil, tanpa menyebarkan fitnah (hoaks) maupun ujaran kebencian.
    2. Kecerdasan Pemilih: Masyarakat harus menjadi pemilih yang cerdas. Tolak segala bentuk politik uang (money politics) dan jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang dapat memecah belah kedaulatan Kute.
    3. Netralitas Penyelenggara: Panitia pemilihan di tingkat Kute wajib menjaga integritas, bersikap transparan, dan tidak memihak demi tegaknya keadilan.

    Menginspirasi Indonesia dari Bumi Sepakat Segenep

    Aceh Tenggara dikenal dengan kekayaan budaya dan kerukunan masyarakatnya yang heterogen. Melalui Pilpengkute serentak 2026 ini, mari kita tunjukkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa Tanoh Alas mampu menggelar pesta demokrasi yang aman, damai, dan sejuk.

    Mari kita kawal bersama 116 Kute yang akan memilih pemimpin baru. Jadikan tempat pemungutan suara (TPS) sebagai ruang kegembiraan, bukan medan permusuhan. Siapa pun pengulu yang terpilih nanti, kemenangan sejati adalah milik seluruh warga Kute yang berhasil menjaga perdamaian. (*)
    Oleh: Mohammad Husni
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini