• Jelajahi

    Copyright © Aceh Nasional News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Category 2

    RSUDZA Jadi Episentrum Gastroenterologi, Gelar ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 Bertaraf Internasional

    9/05/26, Sabtu, September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-05T11:35:08Z
    BANDA ACEH — RSUD Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh terus memperkuat perannya sebagai rumah sakit rujukan utama sekaligus pusat pendidikan dan pengembangan ilmu kedokteran di wilayah barat Indonesia.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 yang digelar Instalasi Endoskopi, Hepatologi dan Bronkoskopi RSUDZA bersama PGI-PPHI-PEGI Cabang Aceh, Kamis, 4 September 2026, di lingkungan RSUDZA, Banda Aceh.

    Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB itu menghadirkan pakar endoskopi dan gastroenterologi dari Indonesia dan Malaysia. Kehadiran para pakar tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kompetensi tenaga medis sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dalam pengembangan layanan gastroenterologi dan endoskopi di Aceh.

    Workshop ini dirancang sebagai forum ilmiah dan pembelajaran praktis yang membahas berbagai aspek tindakan endoskopi, mulai dari persiapan pasien, teknik prosedural, penggunaan teknologi pencitraan terkini, hingga tata laksana pascatindakan.
    Hadirkan Pakar Endoskopi dari Indonesia dan Malaysia
    Sejumlah pembicara yang memiliki kompetensi di bidang gastroenterologi dan endoskopi hadir dalam kegiatan tersebut, yaitu:

    Dr. Chiam Keng Hoong dari Pantai Hospital Penang, Malaysia.
    Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE dari RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

    Dr. dr. Fauzi Yusuf, Sp.PD-KGEH, FACG, FACP, FINASIM dari RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

    Dr. dr. Azzaki Abubakar, Sp.PD-KGEH, FINASIM dari RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

    Kehadiran Dr. Chiam Keng Hoong menjadi salah satu daya tarik utama workshop. Pakar dari Malaysia tersebut turut membuka peluang pertukaran pengalaman antara praktisi endoskopi di Aceh dan pusat layanan gastroenterologi di tingkat regional.

    Sementara itu, kehadiran pakar nasional serta konsultan gastroenterohepatologi dari RS Cipto Mangunkusumo dan RSUDZA memperkuat aspek akademik dan aplikatif kegiatan.

    Penguatan Kompetensi Endoskopi Modern
    Rangkaian kegiatan diawali sambutan Kepala Instalasi Endoskopi dan Hepatologi RSUDZA, Dr. dr. Azzaki Abubakar, Sp.PD-KGEH, FINASIM.

    Dalam sambutannya, Dr. Azzaki menekankan bahwa perkembangan teknologi endoskopi menuntut dokter tidak hanya menguasai teknik tindakan, tetapi juga memahami seluruh rangkaian pelayanan secara menyeluruh.

    Menurutnya, pemilihan pasien, persiapan sebelum tindakan, penguasaan anatomi dan teknik prosedural, interpretasi temuan endoskopi, penggunaan teknologi image-enhanced endoscopy, hingga pemantauan pasien setelah tindakan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kualitas pelayanan.

    “Endoskopi bukan hanya alat, tapi seni dan sains. Workshop ini kita rancang untuk membahas tuntas mulai dari Upper GI, Lower GI, hingga ERCP dan teknologi terkini NBI Classification agar teman-teman sejawat memiliki bekal yang paripurna,” ujar Dr. Azzaki.

    Ia menambahkan, pengembangan layanan endoskopi di RSUDZA harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Dengan demikian, teknologi yang tersedia dapat memberikan manfaat optimal bagi pasien sekaligus meningkatkan standar keselamatan dan mutu pelayanan.

    Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Direktur RSUDZA yang diwakili Wakil Direktur Penunjang, dr. Muhammad Fuad, Sp.PD-KHOM.

    Dalam sambutannya, dr. Muhammad Fuad memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut serta kolaborasi antara RSUDZA, organisasi profesi, dan berbagai pihak yang mendukung pengembangan pendidikan kedokteran berkelanjutan di Aceh.
    Menurutnya, kehadiran pakar internasional dari Malaysia menunjukkan bahwa Aceh memiliki kapasitas untuk menjadi tuan rumah kegiatan ilmiah dengan standar internasional.

    “Ini adalah investasi jangka panjang. Dengan peningkatan kompetensi dokter-dokter kita, masyarakat Aceh tidak perlu lagi berobat jauh-jauh ke luar daerah atau luar negeri untuk mendapatkan layanan endoskopi terbaik. Semua bisa kita lakukan di RSUDZA,” tegas dr. Muhammad Fuad saat membuka acara.

    Empat Materi Utama Endoskopi
    ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 mengangkat empat materi utama yang menjadi bagian penting dalam praktik endoskopi modern.

    Pertama, Upper GI Endoscopy, yang membahas persiapan pasien, pelaksanaan prosedur, hingga tata laksana pascatindakan.

    Kedua, Lower GI Endoscopy, meliputi prinsip persiapan, teknik selama prosedur, serta aspek keselamatan dan pemantauan pasien.

    Ketiga, Image Enhanced Endoscopy dan NBI Classification, yang menjadi salah satu materi unggulan dalam workshop.
    Keempat, ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography), yang membahas tahapan persiapan,
    pelaksanaan tindakan, hingga penanganan pasien setelah prosedur.
    Keempat materi tersebut dipilih karena menggambarkan perkembangan endoskopi yang semakin kompleks dan membutuhkan kompetensi komprehensif.
    Teknologi NBI Perkuat Deteksi Lesi Saluran Cerna
    Salah satu sesi yang menjadi perhatian peserta adalah pembahasan Image Enhanced Endoscopy (IEE), khususnya Narrow Band Imaging (NBI).
    Teknologi pencitraan tersebut membantu dokter mengevaluasi mukosa saluran cerna secara lebih detail dibandingkan pemeriksaan endoskopi konvensional. NBI dapat memperjelas pola permukaan mukosa dan vaskularisasi suatu lesi sehingga karakterisasi lesi dapat dilakukan secara lebih baik.
    Kemampuan tersebut penting dalam proses deteksi dini dan penentuan strategi tata laksana lesi saluran cerna, termasuk lesi prakanker dan kanker gastrointestinal.
    Melalui pembahasan NBI Classification, peserta juga memperoleh kesempatan untuk memperdalam kemampuan interpretasi temuan endoskopi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis dan pengambilan keputusan klinis.

    Perkuat Kapasitas Endoskopi Terapeutik
    Selain aspek diagnostik, workshop turut memberikan perhatian terhadap perkembangan endoskopi terapeutik melalui pembahasan ERCP.
    ERCP merupakan prosedur yang membutuhkan keterampilan khusus dan pengalaman memadai karena berkaitan dengan sistem bilier dan pankreas serta memiliki potensi komplikasi.
    Pembahasan yang mencakup tahap persiapan, pelaksanaan tindakan, dan perawatan pascatindakan diharapkan memberikan pemahaman yang lebih sistematis kepada peserta mengenai pelaksanaan prosedur secara aman dan efektif.

    Penguatan kompetensi ERCP menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan gastroenterologi di rumah sakit rujukan, khususnya untuk menangani kasus gangguan saluran empedu dan pankreas yang membutuhkan intervensi endoskopi.

    Diikuti 20 Dokter Spesialis Penyakit Dalam
    Kegiatan ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 telah tervalidasi Satuan Kredit Profesi (SKP) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
    Peserta kegiatan berjumlah 20 orang, terdiri atas 16 dokter spesialis penyakit dalam dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dan empat dokter spesialis penyakit dalam dari Sumatera Utara.

    Terselenggaranya kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari pengembangan pendidikan kedokteran berkelanjutan serta memperkuat jejaring kolaborasi antara RSUDZA dan pusat-pusat gastroenterologi lainnya, baik di Indonesia maupun mancanegara.

    Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengembangan program KJSU bidang Gastroenterohepatologi Kementerian Kesehatan di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

    Menuju Pusat Unggulan Gastroenterologi di Sumatera
    Sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh, RSUDZA memiliki posisi strategis dalam memberikan pelayanan kesehatan sekaligus menjalankan fungsi pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

    Penguatan Instalasi Endoskopi, Hepatologi dan Bronkoskopi menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung fungsi tersebut.
    Melalui kegiatan ilmiah yang menghadirkan pakar nasional dan internasional, RSUDZA diharapkan terus memperkuat ekosistem pendidikan kedokteran dan meningkatkan kapasitas pelayanan gastroenterologi.

    Dalam jangka panjang, pengembangan tersebut diharapkan dapat mengurangi kebutuhan masyarakat Aceh untuk mencari layanan gastroenterologi di luar daerah.

    ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 sekaligus menunjukkan bahwa Banda Aceh memiliki potensi menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan ilmiah kedokteran berskala nasional maupun internasional.

    Dengan dukungan fasilitas, sumber daya manusia, organisasi profesi, serta komitmen manajemen rumah sakit, RSUDZA terus memperkuat langkahnya menuju pusat unggulan layanan gastroenterohepatologi dan endoskopi di Sumatera.

    Dari ujung barat Indonesia, Aceh tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan ilmiah, tetapi juga terus membangun kapasitas dan jejaring untuk berkontribusi dalam pengembangan layanan gastroenterologi di tingkat nasional dan regional.[]
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini