Header Ads

SEMINAR OPTIMALISASI HERITAGE DAN PARIWISATA ACEH D/R PERINGATAN 100 TAHUN GEDUNG BANK INDONESIA PROVINSI ACEH


BANDA ACEH, 8 DESEMBER 2018
Sejarah mencatat, perjalanan panjang bangsa Indonesia sejak era penjajahan, kemudian dilanjutkan dengan era perjuangan memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan, hingga era pengisian kemerdekaan, tidak dapat dipisahkan dari peran besar masyarakat Aceh, termasuk para pahlawan Aceh.
Khusus di bidang ekonomi, Aceh juga memiliki peranan strategis bagi perekonomian bangsa. Sumber daya alam yang dimiliki, menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah yang berkontribusi bagi kemajuan ekonomi nasional. Pada jaman penjajahan, hasil perkebunan Aceh seperti lada, pala, cengkeh, dan karet, menjadi incaran Belanda. Kontribusi hasil perkebunan Aceh tetap berlanjut pasca kemerdekaan RI, dimana ekspor Indonesia untuk komoditas seperti karet, lada, pala, dan cengkeh, dihasilkan dari bumi Aceh.
Salah satu bukti nyata yang menunjukkan peran strategis Aceh dalam perekonomian Indonesia adalah gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh. Gedung yang awalnya milik De Javasche Bank ini mengindikasikan perekonomian Aceh saat itu dianggap penting, sehingga De Javasche Bank yang merupakan bank sirkulasi milik pemerintahan Hindia Belanda membuka kantornya di Kutaraja (nama Banda Aceh kala itu).
Tidak semua provinsi di Indonesia memiliki gedung peninggalan De Javasche Bank. Selama 125 tahun beroperasi di Indonesia (1828-1953), De Javasche Bank telah membuka 24 kantor yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Khusus di Sumatera, kantor De Javasche Bank hanya ada di Aceh, Medan, Padang dan Palembang. Keberadaan gedung peninggalan De Javasche Bank ini, menambah keistimewaan Aceh bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, selain keistimewaan lainnya seperti penerapan syariat Islam dalam pemerintahan.
Pada tanggal 2 Desember 2018, Gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya (heritage) sejak tahun 1999 ini genap berusia 100 tahun. Gedung ini kini menjadi bagian dari bangunan bersejarah di Banda Aceh. Bentuk dan nilai sejarah yang dimilikinya menjadikan gedung ini sebagai ikon wisata dan sering dijadikan objek pengambilan foto oleh masyarakat, terutama untuk keperluan foto pra-wedding.
Dalam rangka meningkatkan rasa memiliki masyarakat Aceh terhadap keberadaan dan nilai sejarah Gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh, akan diselenggarakan rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun gedung tersebut pada tanggal 8 dan 9 Desember 2018 dengan tema “Kiprah Bank Indonesia dalam Perekonomian Aceh”. Rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh meliputi:
Seminar dengan tema “Optimalisasi Cagar Budaya dalam Mendorong Pariwisata Aceh untuk Akselerasi Perekonomian Daerah” dengan moderator Bpk. Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi) dan narasumber sebagai berikut:
Bpk. Drs. Mawardi Umar, M.Hum, M.A. (Dosen Sejarah Unsyiah) akan memaparkan materi mengenai sejarah perkembangan kelembagaan Bank Indonesia Provinsi Aceh yang berkaitan dengan keadaan perekonomian Aceh secara umum pada saat itu.
Ibu Ir. Izziah, M.Sc., Ph.D. (Dosen Arsitektur Unsyiah) akan memaparkan materi mengenai tinjauan dari sisi arsitektur terkait bangunan BI dan bangunan cagar budaya pada umumnya (kekuatan, estetika), perawatan dan pengelolaan bangunan heritage serta perbandingan dengan negara lain.
Bpk. Dr. Drs. Qismullah Yusuf. M. Ed. (Dosen Unsyiah) akan memaparkan materi mengenai sejarah kejayaan perdagangan dan ekonomi Aceh dari jaman kesultanan hingga jaman kolonialisme serta potensi yang ada.
Bpk. Amiruddin (Plt. Kepala Disbudpar Aceh) akan memaparkan materi mengenai potensi objek wisata di Aceh khususnya wisata heritage serta strategi pengembangannya.
Lomba menulis dengan tema “Prospek Perekonomian Aceh dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi Nasional”, yang diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Lomba melukis untuk pelajar SMA/sederajat, dengan tema “Bank Indonesia di Setiap Makna Indonesia”, yang diadakan hari Sabtu kemarin di halaman kantor BI Aceh.
Lomba fotografi untuk umum, dengan tema “Gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh dan Situs/Tempat/Gedung Bersejarah Aceh Lainnya”
Lomba mewarnai untuk anak-anak TK, yang diadakan hari Sabtu kemarin di halaman kantor BI Aceh.
Mini expo yang menghadirkan booth Museum BI dan BI Provinsi Aceh, dengan menampilkan koleksi museum BI Pusat, koleksi uang kuno Aceh, serta informasi kiprah BI Aceh selama ini.
Rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun Gedung Bank Indonesia Provinsi Aceh juga diharapkan dapat menggugah masyarakat Aceh bahwa Aceh memiliki sejarah yang hebat di berbagai bidang, terutama bidang ekonomi. Kemasyuran ekonomi Aceh harus tetap dilanjutkan melalui optimalisasi pengelolaan kekayaan sumber daya yang dimiliki untuk mewujudkan masyarakat Aceh yang damai dan sejahtera sesuai visi Pemerintah Aceh. Jangan sampai kehebatan ekonomi Aceh nantinya hanya dapat kita temui di buku sejarah. Ekonomi Aceh harus tetap dikenal hingga berabad-abad yang akan datang. Tentunya untuk mewujudkan hal ini tidaklah mudah dan dibutuhkan kerja sama, kolaborasi, serta sinergi yang positif antara berbagai elemen masyarakat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.