Iklan

Category 2

Putusan PT Banda Aceh diapresiasi oleh Aktivis Konservasi SDA

6/10/22, Jumat, Juni 10, 2022 WIB Last Updated 2022-06-10T02:55:05Z


Banda Aceh, Kamis 9 Juni 2022. Disela kesibukannya yang padat, Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh, Dr. H. Gusrizal, S.H., M.Hum didampingi dua orang Hakim Tinggi menerima kunjungan para aktivis LSM yang menamakan dirinya Lembaga Suar Galang Keadilan (LGSK). 


LSM ini memfokuskan kegiatannya pada upaya-upaya konservasi dan mendorong penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan dan sumber daya alam hayati (SDAH) di Provinsi Aceh. Mewakili LSM LGSK antara lain Missi Muizzan, Wahyu Pratama, dan lain-lain.


Kehadiran LSM LGSK tersebut ke PT Banda Aceh untuk memberikan surat penghargaan terkait dengan Putusan Banding pada Perkara Pidana Khusus Lingkungan Hidup  No 89/PID SUS-LH/2022/PT BNA dan No 90/PID SUS-LH/2022/PT BNA. Penghargaan ini diberikan kepada Majelis Hakim: Ketua ; Syamsul Qamar, S.H, M.H., Didampingi dua Hakim Anggota ; Zulkifli, S.H., M.H., dan Yusnidar, S.H., M.H. 


LSM yang bergerak pada upaya konservasi SDA hayati dan lingkungan hidup tersebut memberikan penghargaan kepada majelis hakim PT Banda Aceh karena telah memberikan hukuman yang tepat kepada para pelaku kejahatan yang membunuh 5 (lima) ekor gajah. Majelis Hakim Tinggi menjatuhkan hukuman pidana 4 tahun 6 bulan, lebih berat dari pidana yang dijatuhkan oleh PN Calang kepada terdakwa Sudirman dan kawan-kawannya.


“Menurut kami, hukuman pidana oleh Majelis Hakim Banding tersebut sudah tepat, yang memperberat hukuman pengadilan tingkat pertama yaitu 3 tahun 4 bulan. Karenanya, kami memberi apresiasi atas pemberatan hukuman tersebut”. Ujar Wahyu Pratama mewakili LSM LGSK.


Terkait dengan kasus posisi perkara pidana khusus bidang lingkungan hidup ini, Syamsul Qamar, S.H., M.H., Ketua Majelis Hakim Banding yang didampingi Anggota Hakim Banding, Zulkifli, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kasus posisi perkara ini adalah adanya perbuatan melawan hukum yaitu pembunuhan terhadap 5 (lima) ekor gajah Sumatera yang dilindungi dengan cara dilistrik oleh terdakwa. Setelah mati, lalu terdakwa memotong dan mengambil gadingnya untuk dijual. 



Ada 11 (sebelas) orang terdakwa yang dipidana secara variative, sesuai peran dan fungsinya. “Semua hukumannya kami perberat, supaya masyarakat tidak mencontoh apa yang dilakukan terdakwa, serta menjaga hewan-hewan yang dilindungi, terutama gajah Sumatera yang sudah hampir punah”. Tegas Hakim Tinggi Syamsul Qamar.


Menutup pertemuan tersebut, Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh menyampaikan terima kasih kepada LSM LGSK atas apresiasinya. “Kami memang menaruh perhatian ekstra terhadap kasus-kasus kejahatan lingkungan hidup. Kasus kejahatan lingkungan merupakan perkara pidana khusus, yang ditangani oleh para Hakim Tinggi yang kompetan dan sudah memiliki sertifikat khusus. Kami mendukung optimalisasi Penegakan hukum lingkungan, guna memberi efek jera bagi pelaku kejahatan SDA dan lingkungan hidup”. Pungkas Dr H. Gusrizal, S.H., M.Hum.

Komentar

Tampilkan

Terkini