• Jelajahi

    Copyright © Aceh Nasional News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Category 2

    Memperkuat Kapasitas Psikososial, Relawan Gesit Pidie Gelar Pelatihan

    4/26/26, Minggu, April 26, 2026 WIB Last Updated 2026-04-25T17:34:50Z


    SIGLI — Penanganan dampak bencana tidak lagi sekadar tentang distribusi logistik, tetapi juga menyangkut pemulihan kondisi mental dan literasi masyarakat terdampak. 


    Menyadari hal tersebut, Relawan Gesit Chapter Pidie menggelar pelatihan "Kelas Relawan 2.0" guna memperkuat kapasitas personil dalam menghadapi situasi darurat.


    Pelatihan yang berlangsung di Aula Saka Coffee, Sigli, Sabtu hingga Minggu (25–26 April 2026), ini diikuti oleh puluhan relawan yang mengenakan rompi merah khas "Relawan Kitabisa". 


    Selama dua hari, fokus utama diarahkan pada penguatan kapasitas psikososial dan pengembangan lapak literasi sebagai instrumen pemulihan di lapangan.


    Ketua Relawan Gesit Chapter Pidie, Novita Silviana, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan fase krusial bagi anggota setelah melewati proses orientasi (onboarding). 


    Ia menekankan bahwa kehadiran fisik relawan di lokasi bencana harus diiringi dengan kesiapan mental dan penguasaan materi yang mumpuni.


    "Di fase ini, relawan dituntut lebih siap. Mereka harus mampu menghadapi berbagai kondisi di lapangan, termasuk persoalan psikologis masyarakat yang sering kali terabaikan," ujar Novita.


    Untuk membedah kompleksitas isu kemanusiaan, penyelenggara menghadirkan tiga pemateri, yakni Teuku Satria Mahmud, Dr. Nurlela Mufida, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Teuku Raysoel Akram, S.Sos.


    Dalam salah satu sesi, Dr. Nurlela Mufida memaparkan pentingnya Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama pada psikologis korban bencana. 


    Menurut dia, langkah sederhana seperti menciptakan rasa aman, mendengarkan dengan empati, dan menghubungkan korban dengan kebutuhan dasar menjadi kunci awal pemulihan mental.


    Sejalan dengan itu, Teuku Satria Mahmud mengingatkan bahwa ruh dari gerakan kerelawanan adalah ketulusan. Relawan diharapkan hadir bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, melainkan sebagai penenang di tengah situasi krisis.


    Sementara itu, Teuku Raysoel Akram menyoroti aspek profesionalisme dalam manajemen relawan. Ia menegaskan pentingnya analisis kebutuhan di lapangan agar intervensi yang diberikan tidak salah sasaran.


    "Prinsipnya, jangan memberi apa yang kita punya, tapi berikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh korban," tegas Raysoel.


    Harapan Baru bagi Korban

    Melalui peningkatan kapasitas ini, Relawan Gesit Chapter Pidie memproyeksikan lahirnya tim yang lebih responsif dan humanis.


    Harapannya, saat terjun ke lapangan, para relawan tidak hanya menjadi penyalur bantuan fisik, tetapi juga mampu menghadirkan harapan dan stabilitas emosional bagi masyarakat yang sedang mengalami masa sulit.


    Dengan bekal keterampilan psikososial dan literasi, gerakan ini berupaya membangun resiliensi masyarakat Pidie dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.


    Penulis: Mustafa 

    Editor: Redaksi 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini