Header Ads

Bank Indonesia Dukung Penuh Industri Kreatif Aceh



Banda Aceh - Ann
Rabu, 14 November 2018, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Bp. Z. Arifin Lubis menghadiri pertemuan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Aceh. Bertempat di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Aceh Timur, Rapat tersebut merupakan agenda tahunan Dekranasda Aceh yang bertujuan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan selama satu tahun sekaligus mendiskusikan program-program yang akan dilaksanakan pada period ke depan. Tema Rakerda 2018 ini “melalui inovasi, kreatifitas, dan sinergitas kita tingkatkan kualitas kerajinan daerah”.
Dalam salah satu sesi, Bank Indonesia diundang untuk memberikan paparan terkait program kemitraan dan dukungan pembiayaan perbankan kepada industri kreatif di Aceh. kepala perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Z. Arifin Lubis hadir langsung untuk menjelaskan kepada pengurus dekranasda se-Aceh.
Pada paparannya, Z. Arifin Lubis menyampaikan bahwa permasalahan industri kreatif yang mayoritas masih bersifat industri rumahan adalah permasalahan permodalan dan pemasaran. Permodalan menjadi hambatan bagi UMKM dalam menjalankan bisnis maupun untuk mengeskalasi bisnis. Selain itu, pemasaran jaringan pemasaran yang minim juga menjadi kendala tersendiri bagi para pelaku industri kreatif.
Menjawab permasalahan tersebut Z. Arifin menjelaskan bahwa sebagai regulator, Bank Indonesia sejak tahun 2012 telah menerbitkan ketentuan yaitu Peraturan Bank Indonesa (PBI) No. 14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan Oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang diubah menjadi No.17/12/PBI/2015, bahwa peraturan tersebut bertujuan untuk mewajibkan perbankan untuk menyalurkan pembiayaan/kredit kepada UMKM minimal 20% dari total kredit/pembiayaan. Peraturan tersebut sebagai upaya agar UMKM dapat mengakses pembiayaan secara proper sehingga bisnis yang dijalankan dapat berkembang. Ketentuan tersebut juga menjadi salah satu langkah BI untuk meningkatkan peran perbankan dalam membiayai sektor riil UMKM.
Disamping itu, BI juga secara aktif melakukan program-program untuk meningkatkan akses keuangan serta inklusi keuangan. Beberapa program yang antara lain, fasilitasi credit rating, optimalisasi pelaksanaan sistem resi gudang, pemanfaatan SHAT, mendorong program KUR, melakukan pelatihan keuangan kepada UMKM agar bankable.
Permasalahan lain yaitu akses pemasaran yang masih terbatas serta kemitraan/kelembagaan yang belum kuat di industri kreatif. Mayoritas para pelaku industri kreatif di Aceh masih menggunakan cara-cara pemasaran tradisional, sehingga perlu ada upaya kepada pelaku industry ini untuk melakukan pemasaran menggunakan teknologi seperti market place atau media sosial. Dengan begitu, jaringan pemasaran pelaku industry kreatif akan lebih luas.
Bank Indonesia melalui beberapa program juga turut membantu untuk meningkatkan kapasitas UMKM khususnya mengenai kelembagaan. Bank Indonesia juga menyampaikan komitmen untuk bersinergi dengan berbagai pihak termasuk dekranasda Aceh guna memajukan industry UMKM.
Industri kreatif diharapkan dapat menjadi salah satu penopang ekonomi aceh yang memiliki kekayaaan potensi industry kreatif yang sangat besar. serta meningkatakan kesejahteraan masyarakat aceh.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.