Aceh Besar - Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah turun langsung menembus belantara Desa Lampanah, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, Rabu (29/4/2026). Kehadiran jenderal bintang dua itu untuk memimpin langsung pemusnahan ladang ganja dalam rangka Operasi Antik Seulawah-2026.
Pemusnahan ini merupakan hasil temuan Ditresnarkoba Polda Aceh bersama Polres Aceh Besar. Di bawah terik matahari pegunungan Seulawah, Marzuki yang didampingi jajaran utama Polda Aceh mencabut satu per satu batang tanaman terlarang tersebut untuk dimusnahkan.
“Alhamdulillah, hari ini kami bersama unsur TNI, pemerintah daerah, hingga petani milenial melaksanakan operasi pemusnahan. Total temuan mencapai 20 hektare di beberapa titik dengan estimasi hasil panen 50 ton. Namun, khusus di titik Lampanah ini, luas yang kita musnahkan adalah tiga hektare,” ujar Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah di lokasi.
Ada yang berbeda dalam operasi kali ini. Marzuki sengaja memboyong para petani muda milenial Aceh ke lokasi. Langkah ini bukan tanpa alasan. Jenderal asal Tangse, Pidie, tersebut ingin para pemuda menjadi agen perubahan (agent of change) di tengah masyarakat.
Ia berharap para petani milenial dapat mengedukasi warga agar beralih dari menanam ganja ke komoditas pertanian yang legal dan memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti kopi atau sayur-mayur.
"Kita ingin masyarakat yang selama ini memanfaatkan lahan di pedalaman untuk menanam ganja, mulai beralih ke sektor pertanian yang produktif dan berkelanjutan," harapnya.
Bagi abituren Akabri 1991 ini, kehadirannya di tengah ladang ganja bukan sekadar seremoni simbolis. Marzuki ingin memastikan kepemimpinan di lapangan berjalan maksimal guna memutus mata rantai peredaran narkotika dari hulu.
“Kita tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi peredaran narkotika. Ini ancaman nyata bagi masa depan generasi bangsa,” tegas pria yang dikenal tegas namun humanis tersebut.
Ia menekankan bahwa citra Aceh sebagai daerah produsen ganja harus dihapus. Hal itu hanya bisa dicapai jika langkah represif (penindakan) berjalan beriringan dengan langkah preventif (pencegahan) dan penguatan ekonomi alternatif.
Di akhir kegiatan, Marzuki kembali mengingatkan bahwa perang melawan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada kepolisian semata. Ia mengajak tokoh masyarakat dan aparatur desa untuk lebih peduli terhadap lingkungannya.
“Pemberantasan narkoba adalah tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat berani bersuara dan peduli, maka ruang gerak pelaku akan semakin sempit,” pungkasnya.
Dalam aksi pemusnahan tersebut, turut hadir Wakapolda Aceh Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, Irwasda Kombes Pol. Djoko Susilo, Ketua Bhayangkari Daerah Aceh Ny. Ira Marzuki, serta sejumlah Pejabat Utama (PJU) Polda Aceh lainnya.
