BANDA ACEH – Gemerlap panggung politik dan kesuksesan yang kini dirasakan oleh Yahdi Hasan Ramud (YHR) tidak didapatkan secara Cuma-Cuma. Di balik sosoknya sebagai wakil rakyat di Parlemen Aceh, tersimpan rekam jejak perjuangan hidup yang penuh luka, keringat, dan keteguhan hati dalam menerjang badai krisis.
Sebelum sukses mendirikan perusahaan (CV) dan melangkah kokoh ke panggung legislatif, YHR pernah berada di titik nol. Ketika gelombang Krisis Moneter menghantam Indonesia pada kurun waktu 1998 hingga 2001, dampaknya meruntuhkan dunia korporasi tempatnya mengabdi. Sebagai karyawan PT Alas Helau di Takengon, YHR bersama ribuan pekerja lainnya harus menerima kenyataan pahit: dirumahkan hingga akhirnya berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.
Di tengah situasi ekonomi yang serba sulit dan tak pasti, YHR menolak untuk menyerah. Jiwa pantang menyerahnya teruji saat ia bersedia merendahkan hati untuk mencoba berbagai peluang. Demi menyambung hidup, ia berjuang sebagai pedagang kaki lima menjual ikan hias dan ikan laga di emperan toko orang lain di sudut Kota Takengon.
Ketangguhan YHR kian lengkap berkat kesetiaan pendamping hidupnya, Siti Kasmah Selian. Sang istri turut bahu-membahu menopang ekonomi keluarga dengan membuka usaha dagang kecil-kecilan. Dari kediaman mereka di Jalan SEMEA, Bebesen, Blang Kolak 1, Aceh Tengah, Siti Kasmah menjajakan pakaian bekas (monja).
Tak hanya itu, pasangan suami istri ini juga pernah mengambil pakaian baru dari toko orang lain secara bon (konsinyasi) untuk dijual kembali secara kredit. Sistem pembayaran bulanan ini mereka tawarkan kepada masyarakat di wilayah Takengon dan Bener Meriah yang kala itu masih berada dalam satu wilayah administratif Aceh Tengah hingga memiliki banyak pelanggan setia. Pasangan ini bahu-membahu meresapi setiap tetes asam manis kehidupan dengan penuh keikhlasan.
Di tengah kenangan masa-masa sulit tersebut, YHR membagikan sebuah kisah membekas yang menjadi titik balik spiritual dalam hidupnya.
“Saya pernah berada dalam situasi di mana tidak memiliki uang satu rupiah pun di rumah. Keadaan itu membuat saya bahkan tidak bisa berangkat kerja, hingga terpaksa absen dan gaji dipotong. Bayangkan betapa beratnya tekanan saat itu: di rumah sama sekali tidak ada uang, sementara istri saya sedang hamil tua sembilan bulan mengandung anak pertama kami. Namun, di balik kesempitan dan kepasrahan itu, atas izin Allah SWT, kami diberikan jalan keluar serta rezeki yang sangat besar dan tak ternilai harganya,” kenang YHR penuh haru.
Pengalaman pahit, dinginnya emperan toko, serta ujian ekonomi saat menantikan kelahiran anak pertama tidak pernah membuat YHR patah arang. Sebaliknya, episode kehidupan tersebut menjadi kawah candradimuka yang menempa jiwa kepemimpinannya menjadi sosok yang peka, rendah hati, dan senantiasa berpihak pada rakyat kecil.
Dari emperan toko dan pahitnya PHK, YHR bangkit membangun bisnis mandiri hingga akhirnya dipercaya rakyat memegang amanah di Parlemen Aceh selama tiga periode berturut-turut sebagai Anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh (Dapil 8, meliputi Kabupaten Aceh Tenggara dan Gayo Lues).
(Bersambung...)